Reksa Dana Saham Diperkirakan Akan Meningkat Di Tahun Ini

reksadana-pahami-nikmati

Pinjaman Jamianan Sertifikat Perekonomian Indonesia lebih baik dibandingkan dengan keadaan tahun lalu. Akhir pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi untuk kuartal pertama 2017 tercatat sebesar 5,01 persen. Pertumbuhan ekonomi ini juga mempengaruhi kinerja perusahaan, termasuk emiten di Bursa Efek Indonesia. hief of Investment Officer Bahana TCW Investment Management Doni Firdaus mengatakan, dua tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak ke mana-mana akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat turunnya harga komoditas dan melemahnya nilai tukar Rupiah. Tetapi sekarang sudah ada perbaikan.

“Tahun lalu mulai ada perbaikan harga komoditas dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Dampaknya terhadap perekonomian sudah mulai terlihat seperti pada sektor konsumer, terlihat ada pertumbuhan penjualan,” kata Doni melalui siaran pers, Senin (8/5/2017). Bahana TCW memperkirakan hingga akhir tahun ini indeks dapat bertambah 17,6 persen.

Laporan kinerja kuartal I dari emiten yang menguasai kapitalisasi pasar sebesar 70 persendi bursa menunjukkan ada kenaikan laba operasional sebesar 13,5 persen. Seiring dengan membaiknya pasar saham, kinerja reksa dana saham pun membaik dan dapat memberikan imbal hasil baik pada tahun ini. Dalam jangka panjang, investasi pada saham atau reksa dana saham memberikan imbal hasil yang tinggi. Menurut Doni, secara historis saham berkapitalisasi menengah memberikan imbal hasil lebih tinggi ketimbang IHSG juga LQ 45.

Salah satu reksa dana saham Bahana TCW lebih banyak ditempatkan pada saham-saham berkapitalisasi menengah (mid cap) yaitu Dana Ekuitas Prima (DEP). Tiga tahun terakhir, DEP memberikan return 28,2 persen. Sementara return IHSG 23,9 persen dan LQ 45 24,4 persen.

“Mengingat fluktuasi yang lebih besar dari reksa dana kelas aset lain sepeti obligasi atau pasar uang, reksa dana ini cocok untuk investor jangka panjang di atas 5 tahun, seperti sebagai instrumen investasi untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak atau dana pensiun. Juga untuk investor dengan profil risiko agresif,” tambah Doni.

Doni menambahkan, selain kondisi perekonomian dan perusahaan yang membaik, risiko-risiko baik dari dalam maupun luar negeri sudah berkurang.Seperti pemilihan umum di Eropa juga kebijakan Presiden Donald Trump yang mengacu pada pelemahan dolar AS sehingga baik untuk rupiah. Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi, kurs rupiah yang stabil juga situasi politik yang kondusif membuat pasar keuangan menarik.

Hingga pekan akhir April, dana investor asing pun terus masuk ke bursa, hingga mencapai sekitar Rp 22 triliun, jauh lebih tinggi dari dana asing sepanjang 2016 yang sebesar Rp 16,5 triliun. Kapitalisasi bursa juga meningkat menjadi lebih dari Rp 6.189 triliun.

“Tahun lalu setelah Trump terpilih, para investor asing keluar dari bursa kita. Mulai Maret lalu dana investor asing masuk lagi, terutama ke saham berkapitalisasi besar lalu ke kapitalisasi menengah,” lanjut Doni. Tidak hanya dana asing, katalis lain yang dapat mendongkrak lagi kinerja pasar saham adalah kemungkinan kenaikan peringkat kredit Indonesia menjadi investment grade dari pemeringkat S&P. Secara sektoral, Doni memilih sektor konsumer dan telekomunikasi sebagai sektor yang menjanjikan pada tahun ini. Pinajman Dana Tunai

Recommended Posts

Leave a Comment